MENAPAK JALAN TERJAL, Dalam Menanti Sang Imam Zaman
Assalamualaikum, Tulisan Ayah bulan September - Oktober 2021, sebelum musibah itu terjadi. Saya ketikan dari kertas coreten tangannya. Di usia sepuh [72 th] kecintaan pada jemaat Imam Mahdi as, karunia daya ingat menulis Ayah masih kuat. Mudah-mudahan ini menjadi penolong Ayah pulih sehat walafiat lagi, Aamiin ya Allah Yang Maha Penyembuh.
Penulis: Tatang Hidayatullah —
Parung, September - Oktober 2021
Penulis telah ditakdirkan lahir ditengah lingkungan masyarakat yang disebut “Ahlussunnah wal Jama’ah”.
Pendidikan dasar Sekolah Rakyat Islam - Madrasah Diniyah, dan masuk Pesantren ‘Sadamukti’ asuhan Ustadz Duna (ustad urang sadaya) di Nangklak Cicurug Sukabumi. Dari SRI lalu ke PGAL - Pendidikan Guru Agama Lanjutan di Cisaat Sukabumi selama 3 Tahun. Dan menyelesaikannya ke PGAN 6 Tahun - Pendidikan Guru Agama Negeri di jalan Bondongan Bogor.
Di masa sekolah, aktifitas lain masuk kedalam organisasi PII - Pelajar Islam Indonesia, dan menjadi Ketua PII Ranting jalan Cagak Cisaat Sukabumi. Mengikuti juga keanggotaan IPM - Ikatan Pemuda Muhamadiyah. Tokoh yang di idolakan saat itu bapak Didin Danial dan bapak Bubun Bunyani.
Ketika terjadi peristiwa G30S PKI ada seruan untuk Aksi demonstrasi ke Istana Bogor lewat Ormas KAPPI - Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia. Dengan kebanggaan ‘Baju Loreng’, rombongan berangkat dari Cisaat Sukabumi menuju Istana Bogor dibawah pimpinan Yunus Persas, putra tokoh Cisaat ajengan yang kami idolakan.
Dalam rombongan telah dipompa semangat doktrin ‘Mati Syahid’ memasuki Istana Bogor, jika nantinya wafat dalam Aksi demonstrasi. Penulis dan seorang sohib bernama Ismail Firdaus – yang kelak mengenalkan penulis kepada Islam Ahmadiyah. Kami termasuk perwakilan Siswa PGAL diantara sejumlah 16 orang yang siap Mati Syahid memasuki kota Bogor.
Dengan karunia Allah Taala saat itu kami selamat, meskipun dihadapkan dengan Pengawal Istana Presiden Bogor - Tentara Pasukan Cakrabirawa. Isu lain yang dipompa oleh senior “Turunkan Bung Karno!”. Dalam KAPPI, kami dilantik menjadi ‘Kopasus’. Ternyata kami diberikan kebanggaan tersendiri. Perisitwa terjadi di masa 1960-an, aksi unjuk rasa besar-besaran tuntutan Tritura, awal jatuhnya Orde Lama.
Menyelesaikan PGAN, ada tawaran menjadi guru Agama lewat Depag. Sayang saat itu bapak guru menawarkan ‘biaya’ untuk menjadi guru dengan sejumlah uang persyaratan. Menolak dengan keras, meskipun orangtua sanggup membayar upeti seperti itu, penulis bertekad tidak mau. Didalam Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Arrosyi wal Murtasyi Finnari” - Yang menyuap dan yang disuap keduanya masuk neraka.
Merantau ke Cisolok Pelabuhan Ratu, Alhamdulillah bisa jadi Guru Agama meskipun sebagai honorer dimasa itu. Pernah pula menjadi Guru Agama di Cibolang Kidul di Madrasah Mualim Ahmad - tidak jauh dari tempat tinggal. Saat itu kehausan untuk mencari ilmu tidak padam, mengikuti pengajian pemuda pelajar di Cisaat dengan Guru utama, KH. Dudun Abdul Kohar, KH. Bidin Saefuddin, dan lainnya.
Menjadi Guru Agama di Madrasah sambil membantu orangtua menjadi pengusaha pedagang sayur mayur, dengan mendapat ‘Posten’ - tempat penampungan sayur mayur di jalan Cagak Sukabumi. Sering mengikuti orangtua ke Jakarta Pasar Senen untuk menjual disana. Pasar Senen mulai kendor, pergi ke Bogor dan mendapatkan kontrakan kios di Pasar Gunung Batu, pergi pulang Sukabumi dan Bogor sudah biasa.
Mengenal Ahmadiyah
Suatu hari ketika akan pulang ke Sukabumi bertemu dengan sobat lama, bapak ‘Aos’ - panggilan akrab untuk Mln. Ismail Firdaus disaat itu. Sobat lama yang dicari semasa dulu bersama di pesanten & sekolah PGAN. Beliau bilang, “Jangan pulang, sekarang (malam) ini bermalam saja dirumah saya”, dan ibunya kebetulan berjualan makanan kecil di Pasar Gunung Batu. Hari itu akhirnya memutuskan bermalam di rumah orangtuanya.
Dalam rumah orangtua (ayah tirinya), terpampang foto yang berjenggot secara teratur - Imam Mahdi as. dan para Khalifahnya. Dengan rasa penasaran penulis menanyakan, “Ini siapa..??” sambil menunjuk Imam Mahdi as., Lalu dijawab, “Ini Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. yang mengaku Imam Mahdi” , rasa penasaran, “Oh Mirza Ghulam Ahmad tea [Terj:itu], yang mengaku Nabi? Nabi sudah tutup kan tidak akan ada lagi… ”. Dijawab oleh beliau, “Jeung ente mah teu perlu debat, baca weh ieu buku-buku [Terj: Kalau dengan kamu tidak usah kita berdebat, baca buku-buku ini saja]”, yang disodorkan buku-buku kecil diantaranya; ‘Apakah Ahmadiyah Itu?’, ‘Kabar Suka tentang kedatangan Imam Mahdi’, dan ‘Tiga Masalah Penting’.
Disinilah kami sering bertukar pikiran ihwal Agama, dan banyak membaca buku-buku Islam Ahmadiyah, tanya-jawab dikemukakan memperdalam. Paling telak, dalam buku ‘Apakah Ahmadiyah Itu?’, yang menarik hati dijelaskan dengan rinci oleh Khalifatul Masih ke-2, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra.. Ahmadiyah itu bukanlah sebuah Agama, dan nama Ahmadiyah bukan mengambil dari nama pendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. seperti yang dituduhkan. Gerakan Ahmadiyah organisasi untuk tujuan-tujuan kerohanian.
Dan suatu saat dibawa ke Masjid Ahmadiyah Bogor mendapat penjelasan Ahmadiyah dari ‘Tuan Cheema’ - panggilan dari Haji Mahmud Ahmad Cheema Syahid, HA. Akhirnya melalui perantaraan beliau saya menyatakan Bai’at kepada Khalifatul Masih ke-3, Hazrat Hāfiz Mirza Nasir Ahmad rh. Di Masjid Bogor Al-Fadhl ini kami banyak menimba ilmu belajar langsung dengan Tuan Cheema.
Oleh Ahmadiyah itu sering penulis diskusikan dengan teman-teman yang ada di Sukabumi di pengajian pemuda pelajar, membawa teman-teman dari Cisaat ke Masjid Bogor untuk berdialog dengan Tuan Cheema. Pernah mendapat peringatan dari teman-teman dengan kata-kata; “kamu jangan terlalu mendalam soal ahmadiyah, nanti kami bisa ‘keceot’ [Terj:terbawa] secara tidak sadar kepincut Ahmadiyah”.
Paska Masuk Ahmadiyah (1972)
Jalan Cagak Cisaat menjadi heboh karena ada dua orang muda yang sudah Bai’at masuk Ahmadiyah, penulis dan bapak Ismail Firdaus.
Waktu menjadi pengikut Ahmadiyah umur penulis sekitar 22 tahun. Meskipun ilmu keahmadiyahan kami belum seberapa, kami berdua sudah mengadakan dialog debat dengan para tokoh masyarakat disana. Tempat pertama yang dipakai untuk dialog adalah rumah besar Haji Ma’mun, Pasar Ikan Cibaraja. Dengan bahasan; 1. Kewafatan Nabi Isa as., 2. Arti Khataman Nabiyyin, dan 3. Kebenaran Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.
Dalam soal kewafatan Nabi Isa as. mereka para tokoh sudah mengakui. Dan kami senantiasa melaporkan perkembangannya kepada Tuan Cheema, bagaimana kami jelaskan kepada beliau, peserta dan penonton di tempat diskusi semakin hari semakin ramai. Tuan Cheema, berkata, “Kalau mereka sudah menyatakan mengakui kewafatan Nabi Isa as., setop saja, sebab keselamatan jiwa tuan (kami) juga harus dijaga”.
Akhirnya diantara tokoh masyarakat H. Sadili, H. Harun yang adalah Ua dan paman dari bapak Ismail Firdaus, dan tokoh-tokoh lainnya yang menganggap Nabi Isa as. masih hidup, berbeda pendapat, dan terjadi saling menyalahkan diantara kelompok yang sudah mengakui Nabi Isa as. wafat.
Tabligh Kepada Orangtua
Upaya membendung pengaruh Ahmadiyah, para tokoh setempat mengingatkan di dalam pengajian mereka, agar hati-hati terhadap menyebarnya ajaran Ahmadiyah dikalangan generasi muda. Saat itu baru kami berdua pemuda yang telah ‘kaceot’ [terbawa] terpapar Ahmadiyah.
Suatu saat ketika dirumah Ayahanda, bapak Haji Djarnudji bin Sadikin ada syukuran akan pergi haji ke Mekkah. Diundang penceramah tokoh Kyai haji seorang anggota DPRD Kab. Sukabumi fraksi suatu partai, menyatakan, “Mang.. mana anak Amang yang bernama Tatang Hidayatullah sudah Ahmadiyah ada?” Ayah saya berkata, “Ini anak saya hadir”. Anggota DPRD tersebut mengatakan, “Bejana [Terj:katanya] dia kan punya syahadat lain”. Sambil mengucapkan syahadat dengan diakhiri “… Mirza Ghulam Rasulullah”.
Saat itu penulis berdiri dan menyatakan didepan peserta syukuran Ayahanda, dengan lantang menjawab;
“Pak ajengan, saya ini nama Tatang, coba bapak-bapak hadirin dengarkan dengan seksama bunyi Syahadat saya orang asli Ahmadiyah Qodian;
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُوَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Yang diucapkan bapak Kyai tadi itu fitnah! Saya kan asli orang Ahmadiyah Qodian. Syahadat saya seperti yang saya ucapkan”. Dan saat itu saya sampaikan kepada Kyai, “sekarang sebaiknya laksanakanlah syukuran bapak saya diselesaikan; soal Ahmadiyah saya bicarakan dengan Pak Kyai dibelakang layar, saya siap berdialog dengan Pak Kyai kapan saja, jangan di forum ini”.
Suatu saat lain pernah dibawa orangtua ke Kyai lain yaitu bapak KH. Dadun muda, Pimpinan Pesantren Sunanul Huda di Kp. Cikaroya Desa Cimahi Kab. Sukabumi. Sesampainya di pesantren setelah dinasehati sama Pak Kyai, saat itu menjawab, “Kalau saya disuruh keluar dari Ahmadiyah satu detik pun juga keluar pak Kyai. Tetapi saya masuk Ahmadiyah dengan ilmu, maka keluarkanlah saya dari Ahmadiyah dengan ilmu pak Kyai juga.”
Pak Kyai memanggil santrinya yang beliau percayai. Terjadilah diskusi selepas Isya sampai larut malam. Karunia Allah Taala dapat menjawab keberatan-keberatan pak Kyai dengan baik dan masuk akal. Terutama masalah Nabi Isa as. telah wafat, Pintu Kenabian masih terbuka; dengan dasar dalil dari surah Al-Fatihah.
Akhirnya pak Kyai memanggil Ayahanda ke kamar lain dan berdiskusi sangat lama. Ketika keluar dari kamar, beliau berkata, “Ya sudah, kita pulang ke rumah”. Dan sesampainya dirumah, beliau menasihati dengan kasih sayang, “Besok bapak belikan mesin untuk bikin aci kawung. Ikuti paman kamu di Jampang Kulon, membuka pabrik aci disana dengan paman Oji Saroji, dan belajar ke paman kamu usaha disana”. Saat itu mencoba menolak dengan halus. Aktifitas lain waktu itu di Bogor, di percetakan ‘Kita’ milik Cakra / Pak Sis Suseno, kami diperbantukan menyusun Al-Quran terjemahan dan Tafsir Shagir karya Khalifatul Masih ke-2, dan tinggal di Masjid Bogor sambil menimba Ilmu.
Belajar Di KKPM
Di sekitar tahun 1970-an, dari jemaat zaman itu sangat memerlukan kader pembantu mubaligh muda yang siap tampil kedepan. Dengan modal semangat kami berdua daftar ke Tasikmalaya. Setelah melalui proses tes ujian, penulis dan Ismail Firdaus dinyatakan lulus diterima menjadi murid di KKPM - Kursus Kader Pembantu Mubaligh.
Karunia Allah Taala para guru di KKPM - Kursus Kader Pembantu Mubaligh di Tasikmalaya, masih banyak guru-guru dari Pakistan, diantaranya;
Tn. Mirza Muhamaad Idris, HA
Tn. Imamuddin, HA
Tn. Muhammad Sadiq Sumatri, HA
Tn. Sayeed Anshori, HA
Tn. Abdul Malik, HA
Guru-guru dari Indonesia, diantaranya;
Bpk. Moertolo, SH
Bpk. Sukri Barmawi
Bpk. Ajengan Mahfudz
Bpk. Drs. Abubakar Basalamah
Dan lainnya..
Belajar di Tasikmalaya tempatnya di Gedung Balai Pertemuan, jalan Nagarawangi Kota Tasikmalaya. Kita belajar di lantai bawah balai Pertemuan, juga di fungsikan asrama tempat tidur, yang bila hari Jum’at tiba biasa membereskan tempat tidur sementara dipakai untuk bermain Bulutangkis anggota jemaat Tasik, dan aktifitas jemaat lainnya. Saat itu masih ada bapak Olich Solihin yang dikenal di Indonesia salah satu atlit pertama peraih medali emas Piala Thomas. Rutinitas keadaan darurat seperti itu.
Tempat untuk makan disediakan ditempat anggota Lajnah Tasik, sebuah warung sederhana tidak jauh dari Balai Pertemuan. Setiap waktunya makan kita mengantri masuk ke warung tersebut.
Satu-satunya hiburan adalah menonton bareng “Sepak Bola” dirumah bapak Adang Kamasan, seingat penulis karena yang mempunyai Televisi hanya rumah pak Adang. Kebetulan bapak Adang mempunyai gadis Nashirat, mereka sekeluarga terbuka dan sudah menganggap kami keluarga besar dengan bapak Adang, Istri dan mertua beliau.
Belajar satu tahun rasanya tidak begitu lama. Ada satu kebiasaan dari Tn. Muhammad Sadiq, HA setiap pagi selepas subuh kami biasa diajak jalan-jalan menapaki jalan Nagarawangi sampai pasar Tasik, terkadang singgah silaturahmi di rumah anggota jemaat, salah satunya bapak H. Encang Zarkasih, menikmati suguhan makanan dan minuman ringan. Dan sambil jalan sering Tuan Muhammad Sadiq, HA memberi wejangan-wejangan berhikmah ihwal kehidupan Hz. Imam Mahdi as., para sahabat beliau, dan wali-waliullah. Tidak ada waktu terbuang begitu saja selama satu tahun.

Kami siswa dari KKPM tersebut berbeda latar belakang budaya dan daerah, seperti penulis 1. Tatang Hidayatullah (Sunda), 2. Ismail Firdaus (Sunda), 3. Ukan Sukanda Ahmadi (Sunda), 4. Ahmad Garnida (Sunda), 5. Basyari Tarmudzi (Sunda), 6. Mustari Rauf/Abdus Sattar (Makasar Sulsel), 7. Ismail Busrita (Padang), 8. Harun Ashwad (Lombok), 9. Ahmad (Jawa Tengah), 10. Imam Tauhid Ahmady (Cirebon), 11. Marzuki Barus/Attaur Razak (Medan), 12. Ahmad Hidayatullah (Garut), 13. Basjiruddin Ahmad (Krucil, Jawa Tengah).
Karunia Allah Taala, meskipun kami yang berjumlah 14 orang yang berbeda asal usul latar belakang, kami belajar dengan nyaman dan tertib. Dan setelah sekian lama pada setiap hari Jum’at, kami disebar diberikan jadwal tugas lapangan ke cabang-cabang sekitar untuk menjadi Khatib shalat Jum’at.
Suatu kenangan manis tidak akan dilupakan, para guru biasa secara teratur makan bersama kami. Suatu waktu kami melakukan perjalanan rekreasi ke Situ Gede - Tasikmaya, antara guru dan murid ketika berenang biasa terjadi saling menenggelamkan, begitu sebaliknya. Tidak ada jarak antara guru dengan murid bersama bercanda bersukaria.
Boikot Sosial
Waktu berjalan, saat sudah mendapat tugas menjadi mubaligh pembantu (mualim) dilapangan. Seringkali Ayahanda menyarankan agar kembali kepada Islam “Ahlussunnah wal Jama’ah” untuk tidak meneruskan, mengimingi sebagai anaknya mempunyai hak dan rumah tingkat dibelakang itu akan diberikan, meminta ikut meneruskan usaha rumah makan di Cibolang berlokasi di jalur hidup sukabumi yang sedang majunya dimasa itu.
Dari sejak belajar di KKPM - Kursus Kader Pembantu Mubaligh Tasikmalaya, nasehatnya menyuruh untuk berhenti tidak meneruskan pendidikan. Suatu waktu saat sedang belajar, ada panggilan untuk pulang ke Sukabumi, beritanya orangtua sakit, padahal tidak sakit, hal itu dilakukannya supaya pulang, maunya beliau maju duniawi anaknya.
Teringat nasehat beliau, “Katingalna ku aing baju maneh kucel eta-eta keneh… [Terj:Keliatan sama saya baju kamu kucel itu-itu saja…], kan kamu harus bangkit kedepan kamu akan mempunyai istri dan anak, dan makan-nya nanti, kumaha mun kitu wae… eureun maneh belajar di Tasik, pegang dan kelola ini warung [Terj:gimana kalau begitu terus…berhentilah kamu belajar di Tasik]” Kesan beliau saat itu melihat pakaian lusuh yang sering penulis pakai, baju merah favorit pemberian teman di KKPM (Mln. Ahmad Hidayatullah, Sy). Saat itu beralasan belajar lebih berat tarikannya.
Ketika Jemaat menugasan penulis ke negeri Thailand sudah mendengar kabar Ayahanda sakit-sakitan, kondisinya sudah sepuh. Saat di Indonesia, menyempatkan pulang menjenguk, dengan meminta ijin ke Mln. Cheema waktu itu. Ada kesempatan mengkhidmati orangtua untuk terakhir kalinya, bolak-balik mengantar ke rumah sakit, kondisi kesehatan semakin menurun.
Suatu malam Ayahanda memanggil, menanyakan bagaimana masih menjadi Ahmadiyah. Penulis menanyakan surat Bai’at dan buku-buku jemaat yang pernah diberikan kepada beliau, ternyata masih disimpan rapi dalam koper menyatu dengan surat-surat penting sertifikat tanah. Saya sampaikan kembali Tabligh kepada Ayahanda, “Aa [sebutan saya] menjadi Ahmadiyah berkat doa orangtua, doa shalat Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim”. Lirih beliau berucap, “Hampura, heg gae jadi Ahmadiyah mah, ayeunamah keun soal ahmadiyah, diakhirat masing-masing… ngan ulah jadi mualim [Terj:Maafkan bapak, silahkan sekarang jadi Ahmadiyah, biarkan soal Ahmadiyah, diakherat masing-masing… tapi jangan jadi mualim].”
Malam itu semakin lama kondisinya ngedrop, beliau berucap ‘Allah huAkbar(3×), Lailaha Illawlah, dan menghembuskan nafas terakhir, Inna Lillahi wainna Ilaihi Rojiun beliau wafat dipangkuan penulis.
Sewaktu almarhum Ayahanda masih hidup, tidak ada boikot. Sepeninggalnya, muncul fatwa soal hak waris, “Sanajan cikal kulantaran mahiwal, nu murtad hukumna teu aya hak waris [Terj:Walaupun sebagai anak laki-laki pertama tapi karena janggal, yang murtad jadi hukumnya tidak ada hak waris].
Pihak ibu tiri telah meminta bantuan kepada para Kyai dan Ustadz familinya untuk membuat fatwa bahwa orang yang hukumnya sudah murtad tidak mendapat hak waris. Tempat usaha rumah makan, mushola, berikut tanah, bahkan rumah yang telah menjadi hak pemberian Ayahanda sewaktu hidup, diambil alih oleh ibu tiri.
Berlalunya waktu penulis masih tetap bersilaturahmi mengunjungi ibu tiri dan saudara adik kandung di Sukabumi, suatu kebiasaan yang sudah berlanjut bersama istri dan anak-anak penulis semasa tugas. Ibu tiri wafat mendahului, Allah Maha Ghafur dan Rahim. Di akhir kehidupan beliau sendiri tidak menikmati harta sepenuhnya, diantara ibu dan anak cucunya sendiri memperebutkan. Satu pelajaran “Berharga”.
Menapak Bersama Istri
Memasuki purna tugas, berkat Karunia Allah Taala setelahnya singgah beberapa bulan di dewan naskah Markaz Kemang, diamanah menjadi Kepala Madrasah jemaat Markaz, dan di kantor ristanata corner pusat bersama sahabat (Mln. Ismail Firdaus). Berkhidmat sebagai Zaim ‘Ala Markaz, Naib Zaim Shaf Awal, sek. Tarbiyyat dan Dewan Islah.
Kehadiran almarhumah istri (Siti Nuraini), kesetiaannya mendampingi tidak pernah sekalipun meninggalkan penulis selama rentang waktu 33 tahun 3 bulan di lapangan tugas, berjalan berkhidmat menikmati saat-saat sulit dan senang bersama. Teringat kesenangannya membuat makanan sederhana dan menyiapkan jamuan khas untuk tamu. Sewaktu tugas di Indramayu, membawa makanan ke Pramadrasah lokasi anak-anak Mubayiin Baru, agar belajar mereka tetap bersemangat. Dalam perjalanan ikut penulis diatas motor sering jatuh di sawah atau tertinggal begitu saja.
Kami mengisi waktu mengajar di Madrasah Jemaat Kemang, berjarak kurang lebih 4 km dari rumah menuju Masjid dengan sarana transportasi yang ada, dan terkadang berjalan kaki. Almarhumah istri menjadi wakil kepala Madrasah Diniyah Mubarak tidak resmi. Rintisan di Markas saat-saat awal hanya ada murid 12 orang, dengan Karunia Allah Taala siswa Madrasah terus bertambah, yang tercatat sampai 1017 anak-anak, dan para Wali murid, terutama Ibu-ibu, jumlahnya membludak di acara kenaikan kelas, Alhamdulillah.
Walau disisa hidupnya almarhumah istri dalam derita sakit kanker, untuk yang terakhir kali karunia waktunya tetap semangat berkhidmat mengajar.
Dalam perjalanan, Rasa Syukur pertolongan Allah Taala yang mengherankan senantiasa meminta Doa dari Khalifah Hudhur tercinta. Medan penghidmatan Islam menjadi Wakaf Zindegi sudah menjadi pilihan hidup penulis.
**