Torehan Pena

Kliping, Reportase dari masa ke masa (https://torehanpena.github.io)

05 Aug 2008

IN MEMORIUM, MUBALIGH DEDY NASHRULLAH

Alangkah terkejut dan rasa sedih, ketika penulis menerima khabar duka, dari rekan Arif, mubaligh Cabang Sindangbarang Bogor, bahwa sahabatku, Dedy Nashrullah telah pulang ke Rahmatullah dalam menjalankan tugas.

                       INNA LILLAHI WA INNA  ILAIHI ROJIUN 

Dedy Nashrullah wafat di Desa Panggisari, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Sabtu malam, tanggal 2 Agustus 2008 M, pukul 19.00 WIB dalam usia 49 tahun, karena kecelakaan sepeda motor, dan hari Minggu, 3 Agustus 2008 M, beliau di makamkan di Pekuburan Musi/Musiah Parung-Bogor.

Dedy Nashrullah, Mubaligh kelahiran Cianjur, telah lama berkhidmat dalam Jemaat Ahmadiyah.

Mubaligh Mansyur Ahmad mengenang, ’’Dedy orangnya selalu merendah, tidak berlagu. Moh. Daud, Syamsuddin, Ilman Fajar, dan Dedy termasuk angkatan akhir, pendidikan 3 tahun, JAMIAH di Bandung” Tambah Mubaligh Mansyur Ahmad.

Penulis lebih mengenal Dedy Nashrullah sejak tahun 2001, ketika sama-sama bertugas di Indramayu, Jawa-Barat.

Beliau termasuk Mubaligh yang rajin dan bersahaja dalam penampilan. Dedy Nashrullah saat itu bertugas dikota Indramayu, dengan wilayah binaan; Kertasmaya, Seleyeg, Centigi, saat itu wilyah tersebut rawan tawuran antar Desa, beliau mengatakan, “Saya sering terjebak dalam daerah konflik rawan tawuran, namun karunia Allah, saya selalu di selamatkan.”

Drs. Ari, anggota Ansharullah Bogor mengenang perjalanan dengan Almarhum Dedy Nashrullah di Tahun 1992-an, di daerah Banten, “Bapak Dedy adalah Mubaligh pemberani, saat itu kami berada di kantor Kelurahan Binuangen, Banten. Di luar para perusuh yang diperkirakan 300 orang mengepung..! Tapi dengan karunia dan pertolongan Allah SWT, kami diselamatkan dari bahaya itu, kami bisa keluar dari kantor Kelurahan dan para perusuh membubarkan diri”.

Di Indramayu ada suatu tempat bernama Kp. Tegal Sapi, suatu kawasan hutan jati yang disulap menjadi perkebunan kayu putih. Di sana ada 8 KK anggota Ahmadi bermukim, mereka mengolah tanah (Tanaman padi dan palawija) dengan cara tompang sari di sela-sela pohon kayu putih. Kami berdua mengadakan pembinaan secara rutin, hari-hari dihabiskan bertabligh ke Sanca, dekat Pesantren Az-Zaitun Indramayu.

Untuk membina wilayah tersebut perlu stamina yang prima, di tas Almarhum selalu tersedia obat Homeopathy. Dalam hal mengendarai sepeda motor, Almarhum lebih pandai (Tapis), sering penulis ditolong menyebrangkan, mengambil alih motor penulis dalam menapaki jalan sawah.

Sekarang Dedy telah tiada, hanya tinggal kenangan beliau meninggalkan seorang Istri dan anak-anak, Arini, Irsyad, Ikhsan, dan si kecil. Semoga keluaga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan semoga Allah SWT menerima amal-amal baik beliau dan mengampuni segala kelemahan beliau. Aamiin. ”UDZKURU MAOTAKUM BIL KHAER”

Wassalam yang lemah, sahabatmu T. Hidayatullah, Bogor, 5 Agustus 2008.

comments powered by Disqus