SEKARANG MEREKA TELAH TIADA, NAMUN TAMMAT BILKHAIR
Awan kelabu menyelimuti Corp. Mubaligh Indonesia, khusus teman KKPM [Kursus Kader Pembantu Mubaligh Angkatan Pertama Th 1974, di Tasikmalaya-Jawa Barat.
“Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Rojiuun”, Bapak Imam Tauhid Ahmady [61] telah meninggal karena sakit, Kamis [12/8], pukul 02.00 Wib dini hari di Rumah Sakit Karya Bhakti, Bogor. Ia menyusul karib, termudanya di KKPM Tasikmalaya Bpk. Ataur Razak Barus [49], yang meninggal dunia 26 April 2004 yang lalu.
Imam Tauhid wafat meninggalkan seorang Istri dan 4 orang anak, yakni Malik, Nisa Hafiz dan Taofik. ”Ia tidak meninggalkan pesan apa-apaa" ujar Istrinya Ny.Nining, ketika penulis menemuinya di Parung.
Tetapi beberapa hari sebelum Malakal Maut menjemputnya, Ia sengaja datang ke Kantor Al-Wasiat PB, sempat menemui Sdr. Bashari Tarmuzi - yang juga teman dekatnya - sambil menyerahkan secarik catatan dan berkata; ”Bash hanya ini kekayaan saya" Ternyata perhitungan uang pembayaran Jaidad Al-Wasiatnya berjumlah 8 juta rupiah. Mungkin lebih besar dari jaidad teman lain, atau sebaliknya.
Imam Tauhid lahir 13 Mei 1943 di Majenang, Kabupaten Cilacap-Jawa-Tengah, namun sebagian besar masa kanak-kanak dan remajanya habis diperantauan Tasikmalaya. Dan menurut Emih Adang:”Jang Tauhid mah jalmina sabar pisan”Ia seorang penyabar.Dan di kelas KKPM{Kursus Kader Pembantu Mubaligh} ia merupakan siswa tertua dan di tuakan,ia juga sbagai Ketua Kelas yang disegani.
Rentang waktu panjang pengkhidmatan di lapangan di dalam Jemaat diawali dengan penugasan pertamanya di Jemaat Ahmadiyah Indonesia Cab.Wanasigra,Kab.Garut,Jawa- Barat dan bertugas juga di tempat lain.
Menjelang akhir hayat ia bertugas di Jemaat Ahmadiyah Indonesia Cab.Purwekerto,Jawa-Tengah.Dan pada pemutasian baru,2004 ini,ia diangkat sebagai Dosen di Jamiah Ahmadiyah Parung,mengambil pelajaran Ilmu Hadist.Dan wafat di Bogor,tempat kelahiran istrinya.
Diamata teman-teman Imam Tauhid terkenal peramah dan humoris.Ketika Jalsah 2005 yl karena kehabisan Kamar untuk tidur di Asrama Jamiah yang diatur oleh Panitia.Ia dan penulis mencari dan menempati ruang tempat tidur di pojok luar,lantai atas Mesjid Nasr Parung.
Meskipun Imam Tauhid pernah mengecap pendidikan di Pusat Rabwah ,Pakistan selama beberapa tahun,namun penampilannya tetap tak berubah.”Heunteu Pidah pileumpangan”- kacang tidak lupa kulit.
Disaat terjadi pertandingan sepak bola antar Tim Mubaligh/Mualim di gelar.Penulis merupakan lawan yang selalu berhadapan dengan Imam Tauhid.Target pertama penulis bukan menendang bola,tetapi mengaet kaki,maka sering terjadi pergumulan tampa bola..”Ini sepak bola yang memilki unsur hiburan:”kata teman,lain..
Seiring dengan perjalanan waktu satu persatu mereka berguguran,sebut saja:Bp.Basyiruddin Ahmad,Ismail Busrita,Marzuki Barus,aalias Ataur Razak Barus dan baru-baru ini Imam Tauhid.
Mereka telah bertugas dan berakhir dengan baik- TAMMAT BILKHAIR ATAU HAPPY END
Semoga Allah SWTmengampuni segala kelemahannya dan menempatkan ruh mereka didalam surga Keridhoan-NYA.Amin.Indramayu,
16 Agustus 2004. Tatang Hidayatullah.