Torehan Pena

Kliping, Reportase dari masa ke masa (https://torehanpena.github.io)

04 Aug 2004

SATU JAM BERSAMA KYAI MUDA IHYA ULUMUDDIN DI CABANG-CIREBON

Ciebon, Bisyarat, Rabu [4/8], pukul 14.00 WIB udara kota Cirebon masih terasa panas. Rombongan yang terdiri dari Drs. Abdur Razak, Nur Halim, Mubaligh Dudung Zafar Ahmad, beserta Istri, ibu Hajjah Nurani Hartini selaku Pembina LI Wilayah VIII Cirebon dan Mubaligh Tatang Hidayatullah. Dari Komplek Mesjid Mubarak Cirebon, rombongan meluncur ke lokasi pesantren Buntet guna bersiraturrahmi dengan K.H. Luthfi Hakim, ahli waris K.H. Fuad Hasyim, pemimpin Pesantren Buntet yang baru saja meninggal dunia. Saat itu K.H. Luthfi Hakim sedang tidak ada di tempat. Perjalanan dilanjutkan ke kawasan Gebang yang jaraknya 30 KM untuk menemui Kyai muda Ihya Ulumuddin. Dosen sosiologi Agama di Universitas Indonesia Jakarta ini menyambut rombongan dengan suguhan begitu tamu duduk. Sekilas terlihat dinding ruang tamu terpampang jadwal shalat terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, hasil kerja sama dengan Departemen Agama.

Drs.Abdur Rozak, Selaku Ketua Rombongan memperkenalkan anggota rombongan satu persatu. Pembicaraan pun berjalan dengan ramah. “Terus terang sebelumnya saya masih berfikiran miring ikhwal Ahmadiyah.. tetapi setelah sering bertemu dan berkomunikasi langsung, fikiran saya sekarang berubah”, komentar Kyai muda tersebut. Drs Abdur Razak menghadiahkan lima buah buku penting, sambil mengomentari isi buku-buku tersebut. Buku-buku tersebut antara lain Ijazul Masih, Qoulush Sharih, satu jilid Tafsir kabir karya Hazrat Khalifatul Masih II r.a, dan lain-lain. Sambil berseloroh Kyai Ihya Ulumuddin mengatakan: ”Bapak-bapak datang kesini bukan untuk mengajak saya masuk Ahmadiyah ?” Bapak Drs. Abdur Razak menjawab: ”Kami datang hanya untuk menyampaikan”. “Insya Allah saya bersedia membantu Ahmadiyah dalam menyampaikan kepada masyarakat”. papar Kyai yang kelahiran Madura itu. Tidak terasa waktu terus bergulir, nyatanya perbincangan telah memakan waktu satu jam (mulai 15.30 hingga 16.30 WIB).

Rombongan Ahmadi pamit meninggalkan ruang tamu dengan di antar oleh Kyai yang berpenampilan lembut itu.

K.H. Fuad Hasyim (alm), dalam forum-forum penting selalu membela Ahmadiyah. Kyai Fuad memberikan landasan teologis, sebagai penganut Ahlu sunnah waljamaah semestinya tidak mudah mengklaim orang lain yang tidak sepaham adalah salah bahkan kafir “La nukaffiru ahlal qiblah”, kita tidak akan dan tidak boleh mengkafirkan orang selama ia tetap menghadap kiblat. Ini prinsip orang pesantren, tegasnya (Mashalih Ar-Ra iyah,edisi 03 Desember 2003-januari 2004,halaman 05).

Usai pertemuan dengan Kyai Ihya Ulumuddin, rombongan kembali ke lokasi pesantren Buntet dan di terima oleh Istri almarhum K.H Fuad Hasyim. Dalam pertemuan yang penuh dengan kekeluargaan itu tercetus kata-kata beliau : ”Meskipun pak kyai sudah tidak ada, jangan lupakan kami “Istri kyai ini menyampaikan undangan pesta perkawinan salah seorang putra almarhum K.H.Fuad Hasyim.

{Tatang Hidaytullah - Bisyarat September 2004 No.30}

comments powered by Disqus