Khitaab Al-Muslimun: GERAKAN ISLAM
Ragam Madah Sdr. Sapto Waluyo yang berjudul : “Agenda pergerakan Islam : Siyasah Syar-iyyah,Na-am [Al-Muslimun No.264 halaman 58] cukup menarik dan merupakan fenomena baru.
Ternyata kerinduan Sdr. Sapto Waluyo masih ada di garis kewajaran. Rindu kenyataan dan fakta bukan formulasi teoritis, tentu saja kerinduan semacam ini tetap bergetar dalam dada para mujahid.
Kehadiran suatu gerakan penyelamat yang mampu memperioritaskan ke “Orientasi Hizbullah” [Al-Maidah: 54] dan [Al-Mujadalah : 22], dipadu dengan isyarat Rasulullah s.a.w. : “Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah“ [HR.Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi].
Sayang proses sekarang baru menggumpal komitmen pada Al-Quran dan As-Sunnah. Di dalam dada ! kenapa? karena citra Islam telah banyak tercemar para politikus yang haus kekuasaan dunia.
Satu Front kekuatan ummat ini di dengar perkataannya dan cukup disegani gerakannya [as-Shaf : 4,8-9]. Suatu gerakan yang mampu melakukan Tazkiyah nafs, tegaknya ketaatan kepada Allah di muka bumi ini, dan menjauhkan diri dari perpecahan [As-Syura : 13] Tegakkanlah dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang di kehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada [agama]-Nya orang yang kembali [kepada-Nya] [Asy-Syura : 13],lihat pula [Qs. 8: 46-47].
Pada era Malikan Jabbariyah [1924 – sekarang], kekuatan front non-Islam hakikatnya mereka tidak merasa takut. Kita baca tulisan Shabarun Whs kelanjutan Perang Salib, maka mulai akhir abad ke 16, bangsa-bangsa Barat [Eropa] mengadakan ekspansi ke negeri-negeri kaum Muslimin. Hal ini didasarkan kepada tiga missi, yaitu Gold [mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya], Gospel [menyebarkan missi keagamaan: Kristenisasi] dan Glory [memperoleh kemenangan atas negeri-negeri kaum muslimin para penakluk Barat]. [Al-Muslimun No 258 hal.83] missi ini terpenuhi salah satunya Indonesia dijajah Belanda. Dalam situasi ini saatnya kita faham akan tanda-tanda zaman, hendaknya kita pandai mengantisipasi kebobrokan Eropa dimasa lalu, tentang jaminan hak azasi, dengan licin di rekayasa mejadi terbalik, Justru di negara-negara Islam tergambar pelanggaran hak azasi yang paling parah contoh [Pakistan].
Ironisnya seakan Islam mempunyai missi ancaman [tahdid], tekanan [tadzib], padahal Al-Quran dengan indahnya menjelaskan misinya [Al-Kahfi : 29; Al-Baqarah : 286; Yunus : 108].
Jadi, untuk membidani kelahiran Khilafah, bukan sekedar eksperimen ala Afghanistan, yang nota bene kaum Mujahidin berjuang untuk membebaskan kaum Muslimin dari belenggu komunis yang tidak mengenal Tuhan, untuk meninggikan Dienul Islam. Sekarang Rusia sebagai Ibu yang melahirkan ideologinya telah tiada, berubah menjadi negara-negara kemamuran, atau Eksperimen agung di tanah Al-Quds dengan intifadhahnya tidak akan menuntaskan soal, buktinya Yasser Arrafat Cs.telah mengakui eksistensi Negara Israel.
Kelahiran Khilafah ala Minhajin Nubuwwah bukan seperti ibu muda yang mengejan kesakitan. Kedatangannya sebagai tergambar dalam al-Quran : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka Khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan Khalifah, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan mejadi aman sentausa, selama mereka menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang [kafir] sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang fasik” [An-Nur 55].
Al-Khilafah, ialah “Suatu susunan pemerintahan yang di atur menurut ajaran Islam”, sebagai yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidup beliau, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin [Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib] Kepala negaranya dinamakan “Khalifah”. [Fiqih Islam H.Sulaeman Rasyid halaman 456].
Penalukan seperti Nabi Muhammad saw memasuki kota Mekkah Tiada yang tertindas, khawatir di sepelekan hak asasinya, atau terhina kehormatannya. Perlakuan Nabi suci saw terhadap musuh yang selalu mengancamnya, sesuai dengan permintaan kaum Quraisy agar mereka diperlakukan, seperti perlakuan Nabi Yusuf as terhadap saudara-saudaranya: Dia [Yusuf] berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni [kamu], dan Dia adalah Maha Penyayang dintara para penyayang; Tatkala mereka masuk ke [tempat] Yusuf; Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata: ”Masuklah kamu ke Negeri Mesir Insya Allah dalam keadaan aman” [Yusuf : 92,98].
Khalifah/Wilyatul Faqih/Imam model Nabi-nabi Allah swt inilah perwujudannya sangat didambakan. Bukan Amirul Muminin yang dimatangkan dalam bumi pergerakan sebagaimana gambaran Sdr. Sapto Waluyo.
Dalam kontek kepemimpinan/Imamah Jamaah Riyadhiah, karena mengembangkan kekuatan fisik militer, saat ini tidak perlu susah memilihnya, di Timur Tengah saja kita mengenal, siapa Saddam Hussein, Imam Komeini, Muammar Kaddafi, Abu Nidal, Abu Abbas, Jendral Umar Bashir dari Sudan, Jendral Zia-ul-Haq dan sederan nama lainnya. Revolusi dengan gerakan radikal pada era Globalisasi dengan andalan dukungan massa, hanya akan menambah penyakit ummat Islam yang sudah lama menderita, bukan jalan pengobatan yang akurat.
Saya cendrung kepada pendapat KH Zainuddun MZ, “Kita tidak memerlukan Islam baru. Tetapi cara mengemas Islam. Bagaimana dia tampil dalam wajah utuh, tidak kumuh dan penuh bopeng, kita menawarkan bagaimana Islam ini tampil dalam wajah menyentuh, manusiawi, dan tanpa kekerasan." [Kedaulatan Rakyat, 26 Januari 1992 hal.2].
Saya sangat setuju pendapat Sdr. Sapto Waluyo, Ikhtilaf sekitar syarat keturunan tak perlu diperpanjang. Sebab sang Amirul Muminin di mana saja di seluruh pelosok dunia Islam, sesuai dengan kehendak Allah. Semoga Allah SWT. memberi taufiq dan terbukanya hati kita. Sehingga cita-cita Izzul Islam wal Muslimin dapat berjalan tanpa pedang dan tetesan darah sedikitpun. Sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Jazaakumullah ahsaljazaa.
T. Hidayatullah
Kotak Pos 13
Banjarnegara JATENG
*Suara Pembaca Al-Muslimun, hal.3-5, No. 266 Tahun XXIII (39), Syawal / Zulqaidah 1412H Mei 1992.