Torehan Pena

Kliping, Reportase dari masa ke masa (https://torehanpena.github.io)

31 Jan 1982

DIALOG DENGAN SARJANA ALUMNI IAIN YAYASAN AL-FALAH SITU ILIR KAB. BOGOR

Pada tangal 31 januari [1982] telah terjadi Silaturahmi dialog ringan dengan Bapak Drs. H. Abdurrohim (selanjutnya disingkat HAR), Pimpinan Yayasan Pendidikan Muslimin “Al-Fatah” berlokasi di situ ilir, kec.Cibungbulang, Kab.Bogor.

Yayasan tersebut sebagaimana diakui Pimpinannya, mendapat sumbangan dari Pemerintah Arab Saudi.

Beliau adalah sarjana Alumni IAIN, Bandung, yang kini bekerja pada Kedutaan Arab Saudi Seksi Agama, pernah bermukim di Mesir.

Juga pernah berkunjung ke Negeri Belanda dan Inggris, sebagaimana dikemukakan sendiri oleh beliau.

Setelah saya mengemukakan maksud dan tujuan kedatangan, yakni kunjungan siraturahmi, beliau menyambut sambil menanyakan asal usul bahkan tempat saya bekerja di mana.

Lalu diberikan jawab seperlunya, tetapi kemudian dialog tak dapat dielakkan dalam mana kelonggaran untuk betanya lebih dulu diberikan kepada beliau. Maka terjadilah seperti yang dapat diikuti berikut ini.

DIALOG

HAR : “Sudah yakinkah saudara, bahwa Jemaat Ahmadiyah itu benar dan Mirza Ghulam Ahmad berpangkat Nabi dan Rasul ?"

T.H : “Saya yakin sepenuhnya."

HAR : “Dengan dasar apa Saudara yakin, bahwa Ahmadiyah itu benar dan Mirza Ghulam Ahmad berpangkat Nabi dan Rasul ?"

T.H : “Saya yakin karena : 1.Al-Quran menubuatkan 2.Al-Hadist mejelaskan dan 3.Beliau sendiri mendawahkan diri sebagai Nabi dan Rasul."

HAR : “Siapa sebenarnya yang mendorong tuan Mirza Ghulam Ahmad menjadi Nabi dan Rasul ?”

T.H : “Sebenarnya tidak seorang pun yang mendorong seseorang untuk menjadi Nabi atau Rasul,bahkan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul tiada berambisi untuk menjadi Nabi/Rasul. Dan manusia tidak mempunyai wewenang untuk mengangkat Nabi. Jadi, Allah sendiri yang mengangkat beliau sebagai Nabi dan Rasul."

HAR : “Apa jaminannya, bahwa Mirza Ghulam Ahmad benar seorang Nabi ?"

T.H : “Al-Quran surah Al-Haqqah."

HAR : “Saudara tahu Al-Quran itu kan benda ?"

T.H: “Benar, tapi Al-Quran berlaku sepanjang zaman."

HAR : “Bagaimana sikap Ahmadiyah mengenai keputusan Rabithah Alam Islami yang Telah mengkafirkannya?"

T.H : “Bagi kami Ahmadiyah tidak apa-apa, hanya Rasulullah bersabda: “Siapa yang Mengkafirkan orang Islam, maka kekafirannya akan berbalik padanya”

HAR : “Bagaimana kalimat lengkap dari Hadist itu ?"

T.H : “Dalam hal ini saya rasa Bapak lebih mengetahui”

HAR : “Bagaimana sikap orang Ahmadiyah, karena Pemerintah Arab Saudi jelas melarangnya untuk pergi naik Haji”

T.H : “Ini pun tidak apa apa, sebab dahulu pun Rasulullah saw pernah dilarang oleh orang Quraisy, lagi pula saya rasa Kabah itu bukan milik [kepunyaan] suatu bangsa atau Pemerintahan. Orang Ahmadiyah pun berhak, karena dia Muslim."

Akhirnya dialog terhenti hingga di sisni, lalu beliau menyerahkan sebuah buku "INILAH QADIANI" yang saya terima dengan baik sambil memberikan sebuah buku “NABI ISA DARI PALESTINA KE KASYMIR". Beliau kemudian masuk kedalam. Sementara itu, tiba-tiba datanglah seorang pemuda Tiong Hwa yang mengaku baru masuk Islam. Dengan serta merta menuding: “Pak, Bapak datang ke tempat ini hanya untuk menyebarkan buku ini? Sambil menunjuk ke arah atas meja (maksudnya buku Inilah Qadiani) Saya jawab: “Maaf dik, jangan salah faham. Bapak datang ke sini hanya sekedar Siraturahmi, dan buku ini Bapak terima dari Bapak Ustazd”. Lalu terjadi pula dialog singkat.

Pemuda : “Memang Islam itu bakal terpecah menjadi 73 golongan, tapi yang benar itu hanya satu Yaitu Ahli Sunnah Waljamaah."

T.H : “Benar dik, tapi boleh Bapak tahu, apa dan siapa menurut pengertian adik yang dikatakan Ahli Sunnah Waljamaah itu ?"

Pemuda : “Saya pun belum sampai kepada pengertian itu ?"

T.H : “Kalau begitu, baiklah Bapak terangkan dan nanti adik tanyakan pada Bapak Ustazd, bagaimana menurut pengertian beliau. Nanti adik bisa membandingkan dan mengambil kesimpulan sendiri."

Pemuda : “Ya Pak..!"

Ketika keluar, Bapak Ustazd Drs. Abdurrahim tidak bicara apa-apa lagi kecuali hanya mengatakan: “Apabila ingin ketemu dengan Bapak Wakil Direktur Sekolah, rumahnya di Cibening”. Lalu saya mohon maaf dan permisi.

Pada tangal 5 Pebruari, anjangsosno Tabligh di Kp. Cibening, Kec.Cibungbulang dimana terjadi dialog panjang lebar mengenai Itikad Ahmadiyah, Tanda Akhir Zaman dan Wafat Nabi Isa Al-Masih. Kesan beliau baik bahkan menawarkan agar saya bermalam di rumahnya.

Pada tangal 13 Pebruari, bersama seorang Khudam Cisalada menghadap Dan Ramil, Dan Sek dan Camat di Kec. Cibungbulang untuk maksud menyampaikan surah permohonan berSiraturahmi dari Jemaat Cibitung kulon. Alhamdulillah beliau-beliau menerima kami dengan baik di Kantornya. Pada tanggal yang sama, menemui Kepala Pendais Kec. Cibungbulang di Kantornya dan diterima oleh sekretarisnya, yang menyampaikan pesan atasannya supaya saya datang ke rumahnya, karena pada waktu itu Bapak Kepala sedang ada keperluan.

[Sumber Darsus No.16 April 1982 hal5]

comments powered by Disqus